Mbanyumas Ngapak Story
Banyumas dan Ngapak ibarat dua sejoli yang nggak bisa
dipisahin. Ketika orang menyebutkan dirinya berasal dari Banyumas. Pasti yang
langsung terbesit dipikiran kalian itu “Ngapak”. Bahasa jawa ngapak itu
tersebar di berbagai kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Dengan aksen dan logat
yang amat kental (kayak susu b*nd*r*), setiap kata yang keluar dari bibir-bibir
manusia Banyumas langsung jadi bahan lelucon dan candaan. Pengucapan dan
pelafalan yang diwarnai dengan semangat yang membakar dan emosi yang amat
sangat membara. Keluarlah kata demi kata “Mboke inyong kencot!” “Kiye janganne
dipangan”.
Oke, jadi suatu hari ada seorang tetangga baru berasal dari
luar kota yang jauh di sana. Karna dia merasa butuh bersosial dengan masyarakat
disekitar jadi ia memutuskan untuk mengunjungi sebuha rumah di sebelahnya. Saat
sedangan asyik-asyiknya mereka bercengkrama. Keluarlah makanan dari bilik
pintu. Sambil membawa piring dan sayur, si ibu berkata “Itu mba jangannya
dimakan?”. What? Jangan dimakan? Jadi ini disuguhin buat pamer doang?. Sekali
lagi si ibu penyuguh makanan itupun berucap “Ngga usah malu-malu, itu jangannya
dimakan aja sama krupuk lebih enak”. Dengan raut wajah pusing tujuh keliling,
si tetangga baru inipun hanya tersenyum-senyum bingung penuh tanya. “Kenapa
jangannya nggak dimakan?” ujar si ibu pembawa sayur. “lah katanya ‘jangan
dimakan’ ya saya ngga makan sayur ini.” Jawab si tetangga baru. “Owalah, dadi
rika ora ngerti nek jangan kuwe artine sayur. Oalah iya iya, pangapurane salah
ngomong kiye. Ya itu dimakan aja sayurnya”. Dan suasana pun kembali akrab dan
hangat.
Komentar
Posting Komentar