Jathilan Putri Jaranan Senterewe Kenya Mayangkara
Hai hai Para Penjelajah Dunia Digital!
Sabtu, 3 Maret 2018 tepatnya pukul 15.00 WIB saya mengunjungi Museum Soeharto bertepatan dengan pertunjukkan kesenian kuda
lumping putri dari Jaranan Senterewe Kenya Mayangkara, Sleman. Acara ini adalah pesta rakyat yang diadakan untuk mengenang Bapak Soeharto dengan tema "Bangun Indonesia Jaya".
Museum Soeharto ini berada di desa Kemusuk Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul. Pesta rakyat ini memiliki serangkaian acara. Dimulai dari jam 08.00-24.00 WIB. Acara dibuka dengan tari mojang priangan dan tari angguk kenes. Setelah itu, dilanjutkan dengan festival lomba, campursari, dan pentas wayang republik.
Nah, untuk bisa mencapai Museum Soeharto ini kalian bisa melewati dua rute yaitu dari arah utara melewati Jalan Godean dan dari arah selatan melewati Jalan Wates (Pedes). Kebetulan kemarin lewat Jalan Godean. Untuk yang dari Jalan Godean, dari perempatan Pasar Godean bisa ambil ke kiri lalu lurus ikuti jalan tersebut kemudian nanti akan ada pertigaan di ujung jalan maka ambil yang ke kiri. Nah, sesampainya di sana langsung memarkirkan motor dan jalan lumayan jauh karena memang jalan sedang ditutup untuk pertunjukan.
Warga Yogyakarta biasa menyebut kuda lumping dengan “Jathilan” lain halnya jika di tanah kelahiran saya, Banyumas. Mereka menamakan kesenian ini “Ebeg” dan para penggemarnya dijuluki “Ebegers” keren bukan? Satu kesenian tapi beda sebutannya.
Tidak berapa lama setelah sampai di TKP acaranya langsung dimulai. Pertama, si bapak penimbul (pawang) menabur bunga dan memainkan cambuknya yang panjang dan mengerikan. Suaranya beuuhh jangan ditanya lagi, bisa kali tulang sampai rontok kalo kena cambuknya. Mendengarnya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri.
Setelah itu, si pawang menyalakan dupa dan menyan sehingga menghasilkan asap yang banyak dan berbau khas dupa. Di saat kemebul asap mulai menghilang, tiga barongan keluar. Kalau di Jogja bentuk barongan ini menurut saya rada mirip barongsai cuma nggak seheboh barongsai juga. Sedangkan, kalau di Banyumas bener-bener kepala barongan yang mengerikan terus dikasih kain yang menjulur panjang bak princess (nggak jadi ngeri dong wkwk).
Museum Soeharto ini berada di desa Kemusuk Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul. Pesta rakyat ini memiliki serangkaian acara. Dimulai dari jam 08.00-24.00 WIB. Acara dibuka dengan tari mojang priangan dan tari angguk kenes. Setelah itu, dilanjutkan dengan festival lomba, campursari, dan pentas wayang republik.
Nah, untuk bisa mencapai Museum Soeharto ini kalian bisa melewati dua rute yaitu dari arah utara melewati Jalan Godean dan dari arah selatan melewati Jalan Wates (Pedes). Kebetulan kemarin lewat Jalan Godean. Untuk yang dari Jalan Godean, dari perempatan Pasar Godean bisa ambil ke kiri lalu lurus ikuti jalan tersebut kemudian nanti akan ada pertigaan di ujung jalan maka ambil yang ke kiri. Nah, sesampainya di sana langsung memarkirkan motor dan jalan lumayan jauh karena memang jalan sedang ditutup untuk pertunjukan.
Warga Yogyakarta biasa menyebut kuda lumping dengan “Jathilan” lain halnya jika di tanah kelahiran saya, Banyumas. Mereka menamakan kesenian ini “Ebeg” dan para penggemarnya dijuluki “Ebegers” keren bukan? Satu kesenian tapi beda sebutannya.
Tidak berapa lama setelah sampai di TKP acaranya langsung dimulai. Pertama, si bapak penimbul (pawang) menabur bunga dan memainkan cambuknya yang panjang dan mengerikan. Suaranya beuuhh jangan ditanya lagi, bisa kali tulang sampai rontok kalo kena cambuknya. Mendengarnya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri.
Setelah itu, si pawang menyalakan dupa dan menyan sehingga menghasilkan asap yang banyak dan berbau khas dupa. Di saat kemebul asap mulai menghilang, tiga barongan keluar. Kalau di Jogja bentuk barongan ini menurut saya rada mirip barongsai cuma nggak seheboh barongsai juga. Sedangkan, kalau di Banyumas bener-bener kepala barongan yang mengerikan terus dikasih kain yang menjulur panjang bak princess (nggak jadi ngeri dong wkwk).
![]() |
| Penampakan sang Barongan |
Nah pas
si barongan ini menari-nari dengan garangnya, si penari-penari jathilan yang berjumlah enam orang mulai
masuk dengan tarian khas penunggang kuda. Sepenangkapan saya mereka itu kayak lagi
perang antara si penari jathilan dengan si barongan ini. Kemudian keluarlah
penari yang memerankan celeng/babi. Si pemeran celeng ini memihak si barongan
dan ikut berperang melawan para penari jathilan.
![]() |
| Segenap pemain |
Kemudian, si barongan keluar dari arena sebagai bentuk kekalahan dan si penari tetap melanjutkan tariannya. Beberapa saat berlalu akhirnya penari jathilan pun istirahat. Si barongan masuk kembali ke arena. Nah, pas si barongan ini masuk ke arena, bapak pawang kembali memainkan pecutnya bukan ke barongannya ya tapi ke udara. Ya kaleee -_-. Setiap kali sang pawang memecutkan pecutnya ke udara, si barongan ini menggeliat tak karuan seperti ada sesuatu yang merasukinya, hingga diri ini berpikir wahh... jangan jangan ini nih. Ini nih yang kutunggu-tunggu hahaha.
![]() |
| Sang pawang mulai memanggil "makhluk lain" |
Para penari pun tak mau kalah, mereka bangkit dan mulai menari dengan eloknya. Iringan gamelan pun semakin dipercepat dan akhirnyaaaa... brukkk!! Semua penari menghempaskan diri ke tanah tanpa sadar. Yups! Mereka sedang dirasuki itulah kesimpulan saya. Jatuhnya para penari sebagai simbol bahwa si penari sudah dikalah oleh barongan.
![]() |
| Para penari mulai tak sadarkan diri |
Yang tak khawatirkan adalah lutut mereka. Karena itu di atas paving jadi pasti rasanya sakit, tapi karena yang menduduki raga mereka adalah makhluk lain jadi yaaa biasa aja. Saya melihat si pawang seperti membangunkan makhluk lain yang ada di dalam badan penari tersebut. Gerakan badan sang penari mengikuti gerakan tangan sang pawang.
![]() |
| Sang pawang membangunkan "sosok" yang ada diraga penari |
Saya melihat lutut sang penari yang lecet hingga berdarah. Duh... jika ia sadar pasti rasanya tak karuan. Kemudian mereka semua menari di alam bawah sadar. Satu persatu penari mulai mendekati dupa/menyan. Ada yang kemudian diberi semacam bubuk untuk ditaruh di tangan para penari dan mereka seperti mengendus dan bahkan ada yang sampai menggigitnya loh gengs. Saya sendiri saja linu melihatnya. Tidak hanya bubuk, tapi ada juga yang diolesi seperti minyak-minyakkan saya kira itu fr*sh c*r. Siapa tau yakan si makhluk itu masuk angin wkwkk
![]() |
| "Makhluk lain" menguasai. Ada sesuatu ditangannya. |
Satu persatu pemain barongan disadarkan dan dikembalikan kepada jati dirinya. Nah, untuk menyadarkan diri ternyata tidak mudah. Awalnya mulut barongan itu diberi bunga kemudian si pawang memberikan suara pecutan kepada pemain yang dimaksud untuk mendekat ke kepala barongan itu. Kemudian sepotong kain putih dibentangkan dibadan pemain itu. Si pawang mulai menggerakkan tangannya seperti sedang mengeluarkan sesuatu dari raga sang pemain. Dengan kekuatan penuh hingga urat tangan pawang menonjol dengan jelasnya, sang pemain pun seperti kesakitan dan badannya terlihat kaku hingga menggeliat. Setelah selesai semua rangkaian pengembalian jiwa dan raga sang pemain. Ia terlihat lemas dan jalannya pun tertatih. Untuk pengembalian kesadaran pada para penari juga tak beda, hanya saja kepala barongan diganti dengan kuda lumping.
![]() |
| Satu persatu pemain mulai disadarkan |
Karena sudah tak kuasa menahan bebauan dan menahan pegalnya kaki yang terus berdiri akhirnya ragaku menyerah dan belum sempat acara benar-benar selesai. Eh.. sudah pulang duluan. Tapi, memang acaranya juga hampir selesai karena memang meningat waktu yang sudah sore dan sudah sampai diakhir segmen pementasan/pertunjukkan.
Satu hal menjadi sorotan saya adalah
pertunjukkan ini benar-benar tertib dan tidak ada penonton yang ikut kerasukan
ataupun terjadi aksi kejar-kejaran. Beda jika di desaku, bahkan pernah jumlah
penonton yang kesurupan lebih banyak daripada jumlah pemain dan penari “ebeg”. Bahkan
pernah juga pertunjukkan dimulai pukul 14.00, maghrib belum usai katanya sih
sang ‘makhluk’ yang mendiami tubuh pemain tak mau dikeluarkan. Bagaimana pun kesenian
dan budaya tetaplah harus dijaga bukan?







Komentar
Posting Komentar