Sedikit coretan
Sukses untukku adalah ketika aku bisa menjamin hari tua untuk ibu dan bapak. Mereka adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku. Tidak mudah untuk aku bisa mendapatkan kedekatan dengan orang tuaku. Aku dilahirkan ketika kedua orang tuaku masih kuliah. Berat, memang berat. Hidup bersama dua orang tua muda yang masih harus ngebut skripsi. Beruntunglah, banyak tetangga yang berkenan merawatku. Mereka selalu ada ketika keluargaku mengalami kesulitan. Mereka selalu ada di garda terdepan untuk membantu kami. Siapa yang tak haru melihatnya? Siapa yang tak haru mendengarnya? Mereka bukanlah saudaraku dan mereka juga tidak mendapatkan imbalan sepeser pun. Mereka ikhlas, mereka rela dan mereka selalu siap membantu. Bagaimana mungkin aku akan mengecewakan mereka.
Dulu, aku tidak suka tinggal bersama kedua orang tuaku. Aku lebih suka tinggal bersama tetangga-tetanggaku. Kadang aku merasa tumbuh dalam keadaan sendiri. Bermain sendiri, bicara sendiri, dan tinggal pun sendiri. Bagiku rumah adalah tempat yang paling angker dari sekedar rumah kosong. Aku seperti hidup di antara dua manusia labil. Aku ingin pergi, bersama tiupan angin. Aku ingin lari, bersama deburan ombak. Tak bisakah aku hidup bersama orang tua yang mapan?.
Seiring berjalannya waktu kami menyadari bahwa kami bertiga hidup terlalu keras. Kami mulai menikmati alur kehidupan. Kami mulai tertawa bersama. Kami mulai berbicara. Namun, aku masih belum bisa menikmati. Aku mulai mencari cara untuk keluar dari rumah. Kuputuskan untuk pergi merantau. Meninggalkan sekelumit permasalahan hidup.
Tersadar aku kini bahwa selama ini jalan yang aku pilih salah. Aku memilih mencari jalan yang jauh. Aku memilih menghindar. Itu salah besar! Dalam jalan yang kupilih ini aku merenung, meneropong jauh kesana. Aku menyayangi mereka. Aku merindukan mereka. Aku sangat sangat ingin terus hidup seatap dengan mereka. Ya, merekalah orang tuaku. Merekalah yang telah membesarkanku. Merekalah yang telah memberikanku kesempatan untuk membuat keputusan.
Sekarang, kami menjadi lebih memahami, lebih mengerti, dan lebih bersyukur. Kami sama-sama memaafkan. Kami sama-sama mengakui kesalahan kami. Pernah suatu ketika ibu bertanya "ibu dulu galak ya? Ibu dulu suka nyubit ya?" Siapa yang tak tahan membendung air matanya?
Bapak adalah orang yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Beliau juga selalu memantau pergaulanku. Bahkan bapak juga sangat protect terhadapku. Pernah suatu ketika bapak bertanya "mbak (sapaanku) nanti pulang sama siapa?" "Sama teman pak, nanti nggak usah dijemput gapapa" "cowok atau cewek?" "Cowok, pak" dan bapak pun menjawab "nggak usah, nanti biar bapak aja yang jemput"
Ibu adalah sosok perempuan hebat. Beliau selalu bersyukur, tak pernah mengeluh walaupun teman-temannya jauh lebih mampu dalam hal finansial. Ibu yang selalu mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang mampu mengayomi orang lain, minimal tetangga dan keluarga.
Untukmu ibu & bapak
Dulu, aku tidak suka tinggal bersama kedua orang tuaku. Aku lebih suka tinggal bersama tetangga-tetanggaku. Kadang aku merasa tumbuh dalam keadaan sendiri. Bermain sendiri, bicara sendiri, dan tinggal pun sendiri. Bagiku rumah adalah tempat yang paling angker dari sekedar rumah kosong. Aku seperti hidup di antara dua manusia labil. Aku ingin pergi, bersama tiupan angin. Aku ingin lari, bersama deburan ombak. Tak bisakah aku hidup bersama orang tua yang mapan?.
Seiring berjalannya waktu kami menyadari bahwa kami bertiga hidup terlalu keras. Kami mulai menikmati alur kehidupan. Kami mulai tertawa bersama. Kami mulai berbicara. Namun, aku masih belum bisa menikmati. Aku mulai mencari cara untuk keluar dari rumah. Kuputuskan untuk pergi merantau. Meninggalkan sekelumit permasalahan hidup.
Tersadar aku kini bahwa selama ini jalan yang aku pilih salah. Aku memilih mencari jalan yang jauh. Aku memilih menghindar. Itu salah besar! Dalam jalan yang kupilih ini aku merenung, meneropong jauh kesana. Aku menyayangi mereka. Aku merindukan mereka. Aku sangat sangat ingin terus hidup seatap dengan mereka. Ya, merekalah orang tuaku. Merekalah yang telah membesarkanku. Merekalah yang telah memberikanku kesempatan untuk membuat keputusan.
Sekarang, kami menjadi lebih memahami, lebih mengerti, dan lebih bersyukur. Kami sama-sama memaafkan. Kami sama-sama mengakui kesalahan kami. Pernah suatu ketika ibu bertanya "ibu dulu galak ya? Ibu dulu suka nyubit ya?" Siapa yang tak tahan membendung air matanya?
Bapak adalah orang yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Beliau juga selalu memantau pergaulanku. Bahkan bapak juga sangat protect terhadapku. Pernah suatu ketika bapak bertanya "mbak (sapaanku) nanti pulang sama siapa?" "Sama teman pak, nanti nggak usah dijemput gapapa" "cowok atau cewek?" "Cowok, pak" dan bapak pun menjawab "nggak usah, nanti biar bapak aja yang jemput"
Ibu adalah sosok perempuan hebat. Beliau selalu bersyukur, tak pernah mengeluh walaupun teman-temannya jauh lebih mampu dalam hal finansial. Ibu yang selalu mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang mampu mengayomi orang lain, minimal tetangga dan keluarga.
Untukmu ibu & bapak
Komentar
Posting Komentar